Polisi juga Manusia

Dari arah Kelapa Dua, icha sapaan akrabnya melaju dengan kecepatan 40 km/jam menggunakan sepeda motornya melewati perempatan jalan Margonda Raya. Nampak dari kejauhan seorang lelaki berdiri dipersimpangan jalan sedang mengatur lalu lintas, selang beberapa kilometer kemudian terlihat mobil patroli polisi yang sedang terparkir disebrang jalan, tidak jauh dari kendaraan itu nampak para petugas Dinas Lalu lintas yang berjumlah 7 orang sedang sibuk memberhentikan dan memeriksa kelengkapan surat – surat pengendara sepeda motor.

Tanpa berpiki untuk berbelok arah perempuan ini terus melaju dengan sepeda motornya, sesampainya dipersimpangan jalan diapun diberhentikan oleh seorang polisi lalu lintas. Ekspresi muka panik, jantung berdegup kencang yang dirasakan mahasiswi salah satu Universitas swasta itu. Diapun menghentikan kendaraanya ketepi jalan, tidak lama kemudian polisi itu menghampirinya berkata ”selamat siang, tolong perlihatakan STNK dan SIM Saudari” dengan perlahan icha membuka tasnya mengambil STNK yang tersimpan didalam dompet, diserahkan STNK itu dan tidak lama kemudian polisi itu bertanya ”mana SIM anda?” ichapun menjawab “sedang dibuat pak”. Perdebatan pun semakin panjang dan membuat dirinya kesal dengan sikap polisi yang arogan itu. icha terus mengikuti langkah kaki pria yang berumur hampir 40 tahun itu mendekati mobil patroli yang sedang terparkir dipersimpanagn jalan.

Polisi itu mengeluarkan buku dari saku lengan kanannya. Sambil berkata “anda mau Damai atau saya Tilang karena tidak mempunyai SIM?” Tersentak mahasiwi berambut ikal itu mendengar kalimat polisi tadi. Kata – kata Damai yang berartikan uang suap untuk pengganti denda tilang ditawarkan langsung kepada icha. Ia mengacuhkan kata damai yang Dilontarkan Polantas itu dan membiarakannya menulis surat tilang. Dengan raut wajah kesal ichapun mengambil surat tilang yang berwarna merah itu dan berlalu melanjutkan perjalananya.

●●●

Dinas Lalu-lintas Polres Depok melakukan Operasi Zebra sejak tanggal 8 hingga 30 november 2010. Berdasarkan data dari Ditlantas, hingga tanggal 20 November sudah ada 40.311 kendaraan ditilang. Banyaknya pelanggaran dan penindakan merupakan salah satu barometer keberhasilan operasi yang memang difokuskan pada penindakan tersebut. Menurut kasad Lantas sebutan untuk kepala satuan lalu lintas Polres Depok, Selamat Widodo jumlah pengendara sepeda motor yang melakukan pelanggaran mencapai 26.882 orang. Pelanggaran ini didominasi oleh pengendara sepeda motor karena populasinya yang banyak dengan pelanggaran “Tidak menggunakan helm SNI, tidak melengkapi dokumen kendaraan seperti STNK dan SIM, dan melanggar rambu lalulintas lainnya,” ujar Slamet Widodo, Rabu, 24 November 2010. Dari balik laci mejanya pria itu mengambil buku bersampul merah dan memperlihatkan kepada saya, ternyata buku itu adalah Undang-undang Lalu Lintas No 22/2009 yang baru disahkan DPR pada 22 Juni 2009 lalu. “Beberapa aturan mengalami perubahan dari undang-undang sebelumnya, termasuk salah satunya mengenai ketentuan denda atau tarif tilang, jadi lebih detail, bukan hanya pengguna jalan, pemerintah pun bisa kena denda, dan tarifnya bisa bikin bokek 10 kali lipatkatanya. Undang-undang baru itu memuat sejumlah pasal mengenai sanksi denda tilang dengan kisaran Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta.

Satu persatu besarnya denda dibacakan setiap pengendara kendaraan bermotor yang tidak memiliki SIM dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta (Pasal 281). Setiap pengendara kendaraan bermotor yang memiliki SIM namun tak dapat menunjukkannya saat razia dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 288 ayat 2). pengendara kendaraan bermotor yang tak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 282). Setiap pengendara sepeda motor yang tak dilengkapi kelayakan kendaraan seperti spion, lampu utama, lampu rem, klakson, pengukur kecepatan, dan knalpot dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 285 ayat 1

Sementara untuk kendaraan roda empat, pelanggaran terbanyak dilakukan pengemudi angkutan umum dengan jumlah 7.664 kasus. Penindakan dilakukan karena sopir angkutan mengetem sembarangan dan melanggar rambu dengan menaikturunkan penumpang pada lokasi yang tidak peruntukannya. Diambilnya kembali buku yang tersimpan rapih diruang kerjanya. Dibuka perlahan buku itu dan diberikan kepada saya, ternyata buku itu memuat sejumlah sanksi pelanggaran lalu lintas untuk pengendara mobil berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas datanya sebagai berikut :

Setiap pengendara mobil yang tak dilengkapi kelayakan kendaraan seperti spion, klakson, lampu utama, lampu mundur, lampu rem, kaca depan, bumper, penghapus kaca dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 285 ayat 2).

● Setiap pengendara mobil yang tidak dilengkapi dengan perlengkapan berupa ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 278).

● Setiap pengendara yang melanggar rambu lalu lintas dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 287 ayat 1).

● Setiap pengendara yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 287 ayat 5).

● Setiap pengendara yang tak memiliki Surat Tanda Nomor Kendaraan atau STNK dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 288 ayat 1).

● Setiap pengemudi atau penumpang yang duduk disamping pengemudi mobil tak mengenakan sabuk keselamatan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 289).

● Setiap pengendara atau penumpang sepeda motor yang tak mengenakan helm standar nasional dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 291).

● Setiap pengendara sepeda motor yang akan berbelok atau balik arah tanpa memberi isyarat lampu dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 294).

Kalau Anda ditilang di jalan sebenernya ada dua pilihan yaitu memilih surat tilang dengan form biru atau form merah. Form biru adalah kalau Anda menerima kesalahan Anda (artinya Anda tidak perlu berdebat dengan hakim di pengadilan). Dengan form ini Anda cukup bayar dendanya di BRI yg ditunjuk. Setelah selesai bayar denda resmi ke BRI, anda tinggal ambil SIM atau STNK yg disita. Form merah artinya Anda tidak menerima kesalahan Anda, dan diberi kesempatan untuk berdebat atau minta keringanan sama hakim. “Biasanya tanggal sidang adalah maksimum 14 hari dari tanggal kejadian bergantung pada hari sidang tilang di PN (Pengadilan Negeri) bersangkutan”. Tututr  Selamat  Widodo

Selama kegiatan operasi, tercatat setidaknya ada 22 orang meninggal dunia, 42 orang luka berat serta 100 orang lainnya luka ringan. Akibat seluruh kecelakaan lalulintas itu, kerugian materi mencapai  Rp212 juta. Selamat Widodo mengungkapkan, jumlah korban kecelakaan di wilayah hukum Polres Depok masih terbilang sangat memprihatinkan. Menurutnya, berdasarkan data, jumlah kecelakaan per hari mencapai 14 – 20 kasus. “Masih banyak lagi korban yang tidak terdata. Paling banyak pengendara motor.” tutupnya.

●●●

Enam sepeda motor anggota Dinas lalu lintas sekitar pukul 16.00 wib, datang memenuhi parkiran Polres Depok. “mereka baru saja melakukan Oprasi Zebra sepanjang jalan Margonda Raya”. Kata Marzuki salah satu anggota Ditlantas yang baru tiba dan langsung berjalan menuju salah satu ruangan di dalam polres. Menurut salah seorang petugas Dinas Lalu Lintas yang tidak ingin disebutkan namanya, “kami melakukan oprasi dari jam 13.00 sampai dengan jam 16.00 di ruas jalan Margonda raya, Juanda, Arif Rahman Hakim, Nusantara dan Kartika Sari selama 4 jam. Kami menemukan lebih dari 75 pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara sepeda motor dan angkutan umum seperti tidak menggunakan helm, tidak melengkapi dokumen kendaraan, sopir angkutan mengetem sembarangan dan melanggar rambu dengan menaikturunkan penumpang tidak pada tempatnya”.

“Namun, hari ini yang mendapatkan tindakan hanya 48 kendaraan dan sisanya lewat jalan damai. Sebagian kecil anggota Ditlantas yang menerima uang damai karena faktor ekonomi dan keadaan. Sebelum meneguk minuman dinginnya dia berkata “Polisi juga Manusia” setelah itu ia kembali duduk didepan saya dan melanjutkan ceritanya. Maksud ekonomi disini karena keterbatasan keuangan yang membuat dirinya mengambil jalan pintas ini, dan juga karena uang kesra sebutan untuk uang kesejahteraan (uang tunjangan 10 % dari denda kendaraan) jarang sekali sampai ketangan para anggota polisi lalu lintas ini dengan alesan yang tidak jelas. Selain itu faktor keadaan yang memaksa mereka menerima uang suap karena biasanya para pengendara enggan menyelesaikan masalah tilangnya dengan jalan sidang dan lebih memilih menyuap aparat kepolisian dijalan” tutupnya. Sebaiknya apapun yang terjadi polisi lalu lintas tetap memegang teguh kewajibannya mengatur lalu lintas dan menegakan peraturan yang telah dibuat.

One thought on “Polisi juga Manusia

  1. Ping-balik: Polisi juga Manusia « nisaazdiati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s