‘Plester’

Bahagia itu sederhana, luka juga bisa begitu sederhana, datang dari hal-hal tak terduga, Tapi coba tanyakan hati, sudah berapa banyak plester yang ia pakai untuk mengobati?

Kesendirian tak pernah semenyesakkan ini. Padahal, aku pernah begitu menikmati sepinya hati. Dulu, dulu sekali, anggap saja dulu, karna aku sudah menggapnya lampau.

Menghilangkan sosok dia sebagai orang yang pernah menghuni ruang kosong di dalam sini bukan pekerjaan mudah. Ditinggalkan dengan alasan yang sebenarnya wajar jika tak termaafkan, tidak otomatis membuat bayangnya lenyap dari pikiran. Tanpa sadar aku terus mencandu luka yang bahkan tak aku tau obatnya. Aku sedang pura-pura tetap baik-baik saja meski luka sudah infeksi dimana-mana. dan tambalan plester-plester itu semakin banyak.

Langit di musim penghujan. Gerimis. Ya, mataku kadang menggerimis di tengah terik siang. Menyapa bumi tanpa suara, hanya isyarat duka, luka. Tanpa ada yang bisa memahaminya.

Bahkan waktu tak menawarkan apa-apa, tidak juga dengan lupa. Aku masih bisa dengan baik mengingatnya, mengingat dirinya dan setiap detail kecewa, marah, yang kadang aku simpan terlalu dalam sehingga tak ada siapapun yang bisa menemukan, merasakan. Aku hanya sendirian dengan perasaan yang tak karuan. Sendirian.

Aku tengah memperjuangkan kesembuhan hati dengan memainkan peran ini, sebagai seorang yang tampak bahagia dari luarnya. Aku pikir memanipulasi rasa sakit bisa mengurangi sakitnya. Ternyata tidak, aku hanya terlalu berlebihan menilai kekuatan hatiku sendiri. Tapi kehidupan tidak selalu memberi kita pilihan kan? Peran ini bukan pilihan, aku menganggapnya keterpaksaan. Senyum ini, tawa ini, tidak beda dengan topeng-topeng penuh warna yang biasa dipakai para pendusta. Kini aku pun jadi salah satunya.

Topeng ini, hanya makin menyesakkan dadaku yang sudah penat dengan luka. Luka yang sampai sekarang masih kusimpan sendiri dalam peti yang terkunci. Aku masih yakin bisa menahannya, menahan diriku sendiri untuk bisa tetap membuat semua baik-baik saja. Aku tak lagi peduli seperih apa, aku hanya ingin tetap mengenang dia. cukup mengenang dia.

Tuhan, sembuhkan sakitku..
segera angkat penyakit ini, agar aku mampu menempatkan kebahagian lain dalam kehidupan yang sungguh indah kau ciptakan. tak mau aku menyianyiakan waktumu, menghabiskan waktu dengan yang tidak tepat.

aku ingin menikmatinya, layaknya orang-orang disekitarku yang bahagia dengan ceritanya, aku lelah akan pertanyaan disekitraku, aku diam ketika mereka bertanya akan hal yang sama.

aku hanya butuh kau menyembuhkan luka ini, dan mempertemukanku dengan yang tepat, karna sesungguhnya yang tepat tak akan berpindah ‘tempat’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s