The Mirror Never Lies: Kisah Penantian Anak Suku Bajo

  • Judul             : The Mirror Never Lies
  • Pemain          : Atiqah Hasiholan, Reza Rahadian,Gita Lovalista, Eko, Zainal, Halwiyah, Darsono
  • Durasi           : 100 menit

Di tengah serbuan film bergenre horor, industri perfilman indonesia kembali menghadirkan sebuah karya film yang mengambil tema tentang tradisi salah satu suku di Indonesia, yaitu Suku Bajo. Film yang berjudul The Mirror Never Lies menyajikan keindahan alam Indonesia. Film besutan Kamila Andini ini, membuat mata kita benar-benar dimanjakan dengan indah pemandangan alam Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dengan hamparan laut yang berisikan ikan-ikan beserta terumbu karang yang indah.

Dalam film ini kita akan melihat akting persahabatan tiga anak asli Suku Bajo, yaitu Gita Novalista, Eko dan Zainal. Meskipun pertama kali mereka berakting, namun kualitas aktingnya patut diacungi jempol. Tak berlebihan jika mereka dikatakan mampu mengimbangi akting bintang sekelas Reza Rahardian dan Atiqah hasiholan. Mereka berhasil menujukkan aktingnya yang sangat natural. Kenaturalan film ini juga ditampilkan lewat dialog yang sebagian diucapkan dalam bahasa Suku Bajo, tentunya dengan subtitle Bahasa Indonesia.

The Mirror Never Lies mengisahkan seorang anak perempuan bernama Pakis yang diperankan oleh Gita Lovalista, yang duduk di bangku sekolah dasar. Ia merindukan ayahnya yang hilang ketika mencari ikan di laut. Cermin adalah pemberian terakhir dari ayahnya sebelum menghilang, kemana pun ia pergi cermin itu selalu dibawa. Ia tak pernah lelah untuk menanti ayahnya kembali.

Pakis bersama sahabatnya Lumo, berupaya mencari jawaban akan keberadaan sang ayah. Namun usaha Pakis selalu saja ditentang oleh ibunya, Tayung, yang diperankan oleh Atiqah hasiholan. Tayung selalu marah ketika Pakis membicarakan ayahnya, dan berusaha meyakinkan Pakis bahwa ayahnya telah meninggal. Merasa tidak yakin, anak perempuan yang sedang beranjak dewasa ini, membawa cermin tersebut keseorang dukun desa, guna mencari keberadaan ayahnya yang hilang.

Keadaan semakin rumit ketika hadirnya Tudo yang diperankan oleh Reza Rahadian, seorang peneliti lumba-lumba dari Jakarta yang tinggal di rumahnya. Lambat laun ada sedikit cinta yang tumbuh antara Tayung dan Tudo. Pakis juga ternyata menyimpan rasa suka pada Tudo, karena merasa mendapat figur seorang ayah. Di akhir cerita, kita akan melihat aksi Tudo bersama lumba-lumba bermain di lautan bebas Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Pesan demi pesan juga turut mewarnai film ini, seperti adanya acara adat Suku Bajo, Kabuenga. Tak hanya itu, tapi juga kekeluargaan yang erat pada Suku Bajo dalam bersama-sama menjaga laut, karena laut merupakan bagian kehidupan mereka. Dengan keterbatasan serta sarana pendidikan yang masih minim, mereka berhasil menggambarkan bagaimana seharusnya manusia mencintai dan menjaga alamnya. Secara keseluruhan, film ini berhasil mengajak penonton lebih menghargai, sekaligus lebih mengenal kekayaan Indonesia, terutama laut. « [teks: nisa – foto: google]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s